Penyebab Startup Besar Bangkrut dan Berguguran di 2025

Fenomena bangkrutnya startup besar di era banjir pendanaan menjadi sorotan utama dalam dunia bisnis digital. Tidak sedikit perusahaan rintisan yang sebelumnya mendapat julukan unicorn atau decacorn harus tumbang secara dramatis, meskipun sumber dana mereka sempat melimpah.
Contoh nyata dapat dilihat pada WeWork yang gagal IPO dan FTX yang kolaps karena krisis manajemen. Di Indonesia sendiri, nama Sorabel menjadi pelajaran berharga.
Kali ini kami akan membedah penyebab utama kegagalan startup besar dan mengungkap pembelajaran penting bagi para pendiri bisnis digital lainnya.
Faktor Utama Penyebab Kebangkrutan Startup
Setiap penyebab kebangkrutan startup tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan saling memperparah situasi keuangan maupun operasional perusahaan. Berikut penjelasan mendalam tentang faktor-faktor utama yang kerap menjadi akar kejatuhan startup besar.
1. Manajemen Keuangan yang Buruk
Manajemen keuangan yang kurang solid merupakan akar dari banyak kasus kebangkrutan startup. Burn rate yang terlalu tinggi, di mana pengeluaran jauh melampaui pemasukan, membuat perusahaan terus-menerus bergantung pada pendanaan eksternal.
Startup yang gagal membuat peta jalan menuju profitabilitas biasanya kehabisan nafas saat pendanaan berhenti mengalir.
Selain itu, salah alokasi dana seperti ekspansi yang tidak terukur dan gaji tim yang berlebihan membebani keuangan perusahaan.
2. Model Bisnis Tidak Sustainable
Banyak startup besar gagal bertahan karena model bisnis yang tidak berkelanjutan. Produk atau jasa yang mereka tawarkan tidak benar-benar dibutuhkan pasar sehingga mengalami kegagalan dalam menciptakan product-market fit.
Startup yang mengandalkan strategi diskon berkepanjangan tanpa arah monetisasi yang jelas pun sering kali tersandung masalah pemasukan. Ditambah lagi, kompetisi tidak sehat seperti perang harga agresif dengan kompetitor malah mempersempit margin keuntungan dan memperparah kondisi finansial perusahaan.
3. Kepemimpinan dan Tim yang Tidak Solid
Kekompakan dan pengalaman tim inti, terutama di level founder atau CEO, memegang peranan sangat penting dalam menjaga kesehatan startup. Konflik internal di antara pemegang kendali bisa menimbulkan dampak buruk terhadap iklim kerja serta kepercayaan dari investor dan karyawan.
Kurangnya pengalaman dalam menghadapi krisis juga membuat tim tidak mampu membuat keputusan tepat di saat genting. Budaya kerja yang toxic, tidak inovatif, atau tidak mendukung kolaborasi memperburuk situasi dengan menyebabkan talenta-talenta terbaik pergi.
4. Ekspansi Terlalu Cepat (Over-Scaling)
Ambisi ekspansi sering kali menjadi bumerang ketika dilakukan tanpa riset mendalam. Banyak startup yang memperluas jangkauan ke pasar baru maupun negara lain terlalu dini, sehingga operasional membesar tetapi kualitas produk dan layanan menurun.
Kasus seperti WeWork menjadi bukti nyata bahwa ekspansi agresif tanpa kesiapan matang hanya akan memperbesar risiko kegagalan serta membebani struktur keuangan perusahaan secara signifikan.
5. Perubahan Tren Pasar dan Teknologi
Tren dan teknologi berkembang pesat dan menuntut startup untuk terus adaptif. Banyak startup gagal bertahan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, entah itu transformasi digital atau munculnya kompetitor baru yang lebih inovatif.
Perubahan regulasi dari pemerintah juga dapat secara tiba-tiba menutup celah bisnis. Misalnya, larangan terhadap beberapa model usaha fintech di Indonesia yang kemudian berdampak terhadap kelangsungan bisnis startup.
6. Masalah Pendanaan dan Investor
Permasalahan pendanaan menjadi salah satu penyebab utama bangkrutnya startup besar. Ketika situasi ekonomi memburuk, tidak jarang investor menarik pendanaan secara tiba-tiba, atau startup mengalami penurunan valuasi (downround). Startup yang dibangun di atas valuasi tidak realistis rentan terhempas ketika target performa tidak tercapai. Ketidakmampuan memenuhi target kinerja juga menjadi alarm bahaya bagi investor untuk menghentikan sokongan dana.
Studi Kasus Startup yang Bangkrut
Kita ambil contoh Zenius sebuah startup edutech yang sudah beroperasi selama 20 tahun. Beberapa faktor yang memicu kesulitan Zenius antara lain beban utang yang besar, biaya operasional tinggi, dan dampak dari “tech winter” atau musim dingin investasi teknologi yang menurunkan aliran dana dari investor.
Zenius juga melakukan PHK besar-besaran pada karyawannya sebagai respons terhadap masalah ekonomi makro, namun akhirnya memutuskan berhenti beroperasi sementara waktu demi restrukturisasi bisnis.
| Startup | Asal | Latar & Penyebab Bangkrut/Masalah |
| Theranos | Amerika Serikat | Fraud, janji teknologi yang tidak terbukti |
| FTX | Amerika Serikat | Manajemen keuangan buruk dan fraud |
| Sorabel | Indonesia | Ekspansi gagal, arus kas habis |
| Ofo | Tiongkok | Strategi bisnis dan ekspansi global tidak terukur |
| Zenius | Indonesia | Beban utang besar, biaya operasional tinggi, dampak tech winter |
Solusi dan Pembelajaran untuk Startup
Belajar dari banyaknya kasus kegagalan, startup perlu memusatkan perhatian pada model bisnis yang jelas dan fokus pada profitabilitas nyata, bukan sekadar mengejar jumlah pengguna.
Penguatan kompetensi tim dan budaya kolaboratif merupakan kebutuhan mendasar agar perusahaan tetap inovatif dan solid menghadapi tantangan. Validasi pasar sebelum ekspansi menghadirkan peluang sukses yang lebih besar dan menurunkan risiko kegagalan.
Tidak kalah penting, setiap startup harus memiliki strategi darurat sejak awal, baik itu pivot bisnis, merger, atau bahkan exit strategy, agar siap menghadapi ketidakpastian pasar.
Kebangkrutan startup besar biasanya dipicu oleh kombinasi faktor internal dan faktor eksternal. Setiap pelaku startup perlu terus belajar dari berbagai kasus kegagalan agar mampu membangun perusahaan yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Di tengah ketatnya persaingan, startup juga harus aware dengan digital marketing. Ini menjadi salah satu kunci penting agar startup bisa tetap relevan, dikenal, dan tumbuh. Namun, agar strategi ini berjalan efektif, dibutuhkan mitra yang ahli dan profesional.
Herco Digital hadir sebagai solusi terbaik! Sebagai Top 3% Google Partner Agency 2024, Herco Digital telah dipercaya banyak brand untuk mengelola berbagai kanal pemasaran digital mulai dari Google Ads, iklan di media sosial, hingga Search Engine Optimization (SEO).
Konsultasikan strategi digital marketing Anda bersama Herco Digital hari ini!








